MANUSIA DAN AGAMA
A. HAKIKAT MANUSIA
1. Berbagai pandangan
tentang manusia :
Dalam pandangan teori
kognitif bahwa manusia adalah homo sapiens yaitu makhluk
berpikir. Tidak lagi manusia dipandang sebagai makhluk yang melakukan reaksi
terhadap lingkungannya secara pasif. Akan tetapi merupakan makhluk yang
berusaha memahami lingkungan dan makhluk yang selalu berpikir. Di dalam
al-qur’an banyak ayat yang mendorong manusia untuk menggunakan akalnya dalam
memahami alam, seperti afala ta’qilun, afala tatafakkarun.
Manusia dalam pandangan
teori behaviorisme adalah makhluk homo mechanicu (manusia
mesin). Aliran ini berpendapat bahwa segala tingkah laku manusia terbentuk
sebagai hasil proses pembelajaran terhadap lingkungannya, tidak disebabkan oleh
aspek rasional dan emosional.
Filosof Immanuel Kant
menempatkan manusia pada tiga wujud : wujud epistimologis yaitu apa yang mesti
ia kenal, wujud etis yaitu apa yang mesti ia lakukan dan wujud religius yaitu
apa yang mesti ia harapkan.
Dalam pandangan Soren Kierkegaard
bahwa manusia sebagai makhluk memerlukan tiga kelengkapan hidup yaitu estetis.
Dengan kemampuan estetis itu manusia mampu menangkap dunia sekitarnya sebagai
dunia yang mengagumkan serta mengungkapkannya kembali melalui lukisan yang
indah, tarian yang mempesona. Kemudian kelengkapan etis. Dengan kelengkapan
etis manusia mampu meningkatkan estetis secara sempurna kearah yang lebih
manusiawi dan bertanggungjawab. Sedangkan kelengkapan religius mengantarkan
manusia mengenal yang transendental sehingga menusia menyadari perlunya
pendekatan kepada Tuhan yang semakin menuju kesempurnaan yang akan melepaskan
dirinya dari rasa kekuatiran.(Syamlan Sulaiman, 1988 : 15).
Karl Marx berpandangan bahwa
manusia adalah makhluk Homo faber yaitu makhluk pekerja. Manusia
bekerja memproduksi bahan alami menjadi bahan yang ekonomis yang
dipergunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Maka untuk itu ia harus
bekerja.
Dalam pandangan Aristotles
bahwa manusia disebutnya sebagai Homo Socius yaitu makhluk
sosial. Karena manusia mempunyai kodrat untuk hidup bermasyarakat.
Dalam al-Qur’an disebut
dengan hablum minannas hubungan manusia dengan sesama manusia.
membentuk
Dalam pandangan Islam manusia dalah makhkuk ciptaan
Allah yang terdiri dari tubuh atau jasad dan ruh. Kedua insur ini senyawa,
sehingga terwujud proses dan mekanisme hidup. Terputusnya dua unsur ini berarti
terjadinya kematian.
Dalam pandangan al-Qur’an manusia disebut dengan
berbagai aspek (Dep.Agama , 2001 : 13) yaitu :
Dari aspek historis penciptaannya manusia disebut Bani
Adam (Q. S Al-A’araf : 31), dari aspek biologis kemanusiaannya disebut
dengan Basyar yang menggambarkan sifat kimia-biologisnya (Q.S
Al-Mukminun : 33), dari aspek kecerdasannya disebut dengan insan yaitu
makhluk terbaik dengan kemampuan akal menyerap ilmu pengetahuan (Q. S-Rahman :
3-4), dari segi sosiologisnya disebut dengan istilah annas yang
menunjukkan sifat manusia yang berkelompok sesama jenisnya (Q.S Al-Baqarah :
21), dari segi posisinya manusia disebut abdun yang menunjukkan
kedudukannya sebagai hamba Allah yang harus patuh, tunduk dan merendahkan diri
dihadapan Allah yang menciptanya (Q. S Saba’ : 9).
Dalam pandangan Islam manusia memiliki kelebihan dan
kelemahan.
Adapun kelebihan manusia adalah : Manusia diciptakan
dalam bentuk yang sebaik-baiknya (Q.S 95:4), manusia dimuliakan Allah (17: 70),
manusia mempunyai akal dan ilmu pengetahuan (Q.S 2:31), manusia memiliki fungsi
ibadah dan khalifah (Q.S 51: 56), manusia sebagai makhluk beragama (Q.S 30 :
30), manusia mempunyai program hidup (Q.S 2 : 201), manusia memiliki kehendak
dan harus bertanggungjawab (Q.S 52: 21) dan manusia memiliki kesadaran moral
(Q.S 91: 7-8).
Kelemahan manusia adalah : Manusia adalah makhluk
lemah, suka berbuat aniaya dan mengingkari nikmat (Q.S 14 : 34), manusia
bersifat tergesa-gesa (Q.S 21 : 37), manusia keluh kesah, kikir dan gelisah
(Q.S 70:19-21) manusia suka melampaui batas (Q.S 96:6)), manusia bersifat
pelupa (Q.S 2 :44), manusia cenderung menuruti nafsu (Q.S 3: 14), manusia
bersifat merugi (Q.S 103 :1), manusia suka bermegah-megah (Q.S 102 :1 ),
manusia suka berbantah-bantah(Q.S 102 :1 ),manusia bersifat zalim dan bodoh
(Q.S 33 : 72).
Dalam pandangan Murtadho Muthahhari (1984 ) bahwa
manusia adalah makhluk serba dimensi yaitu :
a. Dimensi biologis. Secara fisik manusia memerlukan
makan, minum, istirahat dan menikah supaya manusia hidup tumbuh berkembang.
b. Dimensi etik. Manusia mempunyai sejumlah emosi yang
bersifat etis yaitu ingin memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian.
c. Dimensi Aestetika. Manusia mempunyai perhatian
terhadap keindahan.
d. Dimensi ketuhanan. Manusia mempunyai dorongan untuk
menyembah Tuhan(Q.S Al-A’raf).
e. Dimensi potensial. Manusia memiliki kemampuan dan
kekuatan berlipat ganda, karena ia dikarunia akal dan kehendak bebas sehingga
ia mampu menahan hawa nafsu dan dapat menciptakan keseimbangan dalam hidupnya.
f. Dimensi pengenalan diri. Manusia mempunyai
kemampuan mengenal dirinya sendiri. Jika ia sudah mengenal dirinya, ia akan
mencari dan ingin mengetahui siapa penciptanya, mengapa ia diciptakan, dari apa
ia diciptakan, bagaimana proses penciptaannya dan untuk apa ia diciptakan
? (Man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu)
B. Fungsi manusia
Ada 4 fungsi manusia yaitu :
1. Fungsi manusia terhadap pribadi yaitu memenuhi
kebutuhan jasmani dan ruhani secara menyeluruh dan seimbang agar keutuhan
pribadinya terjaga.
2. Fungsi manusia terhadap masyarakat yaitu memberikan
pelayanan–pelayanan fisik maupun moral seperti membantu orang lain baik berupa
fisik maupun non fisik.
3. Fungsi manusia terhadap alam yaitu memanfa’atkan
potensi alam untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dan memelihara
kelestariannhya agar dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia sepanjang masa.
4. Fungsi manusia terhadap Allah SWT yaitu melakukan
ibadah dengan sebaik-baiknya secara benar menurut tuntunan syariat Islam. (Q.S
Adz-Dzariat: 56).
C. Peranan Agama Bagi Manusia
1. Agama sebagai dinamisator.
Agama berperan sebagai dinamisator artinya bahwa
dengan agama mampu menggerakkan umat untuk melakukan sesuatu perbuatan baik
yang dilakukan secara terus-menerus. Karena agama memberikan jaminan bahwa apa
yang diperbuat itu jika merupakan suatu kebaikan, maka akibat dari perbuatan
baik itu akan kembali kepada pelaku. Dengan dengan dinamisasi kehidupan umat akan semakin
menjadi produktif.
2. Agama sebagai Stabilisator
Agama berperan sebagai stabilisator artinya bahwa
agama mampu menstabilkan suatu keadaan yang mengalami ketidak pastian
disebabkan oleh berbagai hal. Karena agama merupakan ajaran yang penuh
kedamaian, kesejahteraan dan ketenteraman. Termasuk bagaimana agama mampu
memberikan rasa aman dan ketenangan kepada umatnya dalam menghadapi berbagai
situasi dan kondisi ketidakpastian. Dalam Islam terdapat konsep sabar yang
dapat dijadikan sebagai penolong. Allah berfirman dalam al-qur’an” maka minta
tolonglah dengan sabar dan shalat.
3. Agama sebagai Inspirator
Agama dapat menjadikan seorang muslim memperoleh
berbagai inspirasi, sehingga ia menjadi orang kreatif dan inovatif dengan
berbagai karya yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
4. Agama sebagai pencegah kemungkaran
Orang yang beragama akan mampu mengendalikan dirinya
dari berbuat kemungkaran atau kemaksiatan. Karena agama menuntut keta’atan
untuk melaksanakan berbagai kebaikan.
5. Agama menciptakan manusia kompetitif dan futuristik
Banyak ayat al-qur’an yang mendorong manusia untuk
mejadi orang yang kompetitif dalam kebaikan
(Fastabiqul Khairat) dan agar mempersiapkan masa depan yang pasti (waltanzur
maqaddamat liqhad).
6. Agama menciptakan ketenangan jiwa manusia.
Agama sebagai pedoman hidup
bagi manusia akan mengarahkan kemana manusia menuju. Dengan demikian arah
kehidupan manusia menjadi jelas dan pasti, sehingga ia akan memerogramkan
kegiatan untuk mengisi kehidupannya untuk mencapai tujuan yang pasti. Hai orang
yang beriman hendaklah setiap diri mempersiapkan hari esok ( Q.S Al-Hasyr)
No comments:
Post a Comment