KEIMANAN DAN KETAQWAAN
A. Pengertian
Aqidah berasal dari kata ’aqada-ya’qidu-’aqidatan yang
berarti menghubungkan ujung yang satu dengan ujung yang lainnya sehingga menjadi
satu ikatan yang kuat dan sulit dibuka (Moh.Mansyur, 1997 : 17). Setelah
terbentuk menjadi aqidatan (aqidah) berarti kepercayaan
(keimanan) atau keyakinan.
Secara terminologi aqidah sebagaimana menurut Hasan
Al-Banna adalah ’Aqaid (bentuk jama’ dari ’aqidah) adalah beberapa perkara yang
wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketenteraman jiwa, menjadi
keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. Manurut Abu
Bakar Al-Jazairi dalam Kitab aqidah al-Mukmin bahwa aqiqdah adalah sejumlah
kebenaran yang dapat diterima secara mudah Berdasarkan dua pengertian tersebut
di atas dapat diketahui bahwa dalam memahami akidah harus secara tepat yaitu :
oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah.
Kebenaran itu dipatrikan dalam hati dan ditolak segala sesuatu yang
bertentangan dengan kebenaran itu (Dep.Agama, 2001 : 102).
Pertama : Setiap manusia mempunyai fitrah untuk mengakui
kebenaran dengan potensi yang ia miliki untuk mencari dan menguji suatu
kebenaran yang dapat dilakukan melalui indra dan akalnya. Sedangkan wahyu
digunakan sebagai pedoman untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk.
Menempatkan alat tersebut pada fungsi masing–masing untuk mendapatkan kebenaran
menjadi sangat penting. Allah mengeluarkan manusia dari perut ibunya
dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu, kemudian Dia memberi pendengaran,
penglihatan dan hati agar manusia bersyukur (Al-An’am : 78).
(Dep.Agama, 2001 : 102).
Ruang lingkup akidah Islam
Ruang lingkup akidah Islam menurut Hasan Al-Banna
mencakup pembahasan tentang :
1.
yaitu
pembahasaan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilah (Tuhan),
seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat Allah, perbuatan (af’al) Allah dan
sebagainya.
2.
Ilahiyah Nubuwwah, yaitu pembahasan tentang
segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi, rasul, mengenai kitab-kitab Allah,
mu’jizat dan sebagainya.
3.
Ruhaniyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang
berhubungan dengan alam metafisik, seperti malaikat, jin, iblis, syaithan dan
ruh.
4.
Sam’iyah, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya
dapat diketahui melaui sam’i yakni dalil naqli yaitu al-Qur’an dan As-Sunnah,
seperti alam barzah, azab kubur, akhirat dan sebagainya. (Dep.Agama, 2001 :
106).
Aqidah dalam pengertian keimanan oleh Sayid Sabiq
(1978 : ) 16-17mencakup pembahasan tentang perkara berikut :
- Ma’rifat kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang mulia dan sifat-sifat-Nya yang tinggi. Ma’rifat dengan bukti-bukti wujud atau ada-Nya serta kenyataan sifat keagungan-Nya dalam alam semesta ini.
- Ma’rifat dengan alam yang ada dibalik alam semesta ini yakni alam yang tidak dapat dilihat. Demikian pula kekuatan-kekuatan kebaikan yang ada didalamnya yaitu yang berbentuk malaikat. Demikian pula kekuatan jahat yang berbentuk iblis dan sekalian tentaranya dari golongan syetan. Juga ma’rifat dengan alam lain seperti jin dan ruh.
- Ma’rifat dengan kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada para rasul yang dijadikan batas untuk mengetahui antara yang hak dan bathil, yang baik dan yang buruk, yang halal dan yang haram.
- Ma’rifat dengan nabi-nabi dan rasul-rasul Allah SWT yang dipilih-Nya untuk menjadi pembimbing yang memberi petunjuk serta memimpin seluruh makhluk menuju kepada yang benar.
- Ma’rifat dengan hari akhir dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada sa’at itu, seperti kebangkitan dari kubur, memperoleh balasan pahala atau siksa, surga atau neraka.
- Ma’rifat kepada takdir (qadha’ dan qadar) yang di atas landasannya itulah berjalannya peraturan segala yang ada dialam semesta ini, baik dalam penciptaannya maupun cara mengaturnya.
Untuk membahas akidah Islamiyah ini marilah kita mulai
dengan memperhatikan hadits Nabi riwayat Muslim dari Umar yang artinya : Iman
itu adalah percaya kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya,
hari akhir dan percaya kepada qadar yang baik dan buruk.
1.Iman
kepada Allah
C. Ciri orang beriman
Ciri-ciri orang yang beriman sebagaimana digambarkan
dalam al-Qur’an dapat disarikan sebagaiberikut:
1.
Bergetar
hatinya apabiala disebut nama Allah
2.
Imannya
makin bertambah apabila dibacakan ayat Al-qur’an
3.
Bertawakkal
hanya kepada Allah
4.
Orang
yang mendirikan shalat
5.
Orang
yang menginfakkan rizki yang telah dikaruniakan Allah (Al-Anfal :2-3).
6.
Orang
yang khusu’ dalam shalatnya
7.
Orang
yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak bermanfa’at
8.
Orang
yang menunaikan zakat
9.
Orang
yang menjaga kemaluannya
1. Orang yang memelihara atau menepati amanat dan
janji-janjinya
1. Orang yang memelihara shalat-shalatnya (Al-Mukminun :
1-9)
Pengaruh Keimanan dalam kehidupan
Iman yang kuat dan tulus akan memberikan pengaruh
positip dalam kehidupan sesorang antara lain :
1.
Kemerdekaan
jiwa dari pengaruh orang lain
Keterikatan seseorang
terhadap pengaruh atau kekuasaan orang lain menyebab ia tidak bebas bergerak
untuk mencapai kemajuan. Karena itulah orang beriman kepada Allah akan
melenyapkan keterikatannya pada kekuasaan orang lain yang dapat memerdekakan
dirinya untuk melakukan apa yang terbaik menurut tuntunan agama. Saya tidak
berkuasa untuk menarik kemanfa’atan atau kemudaratan untuk diriku sendiri, kecuali
apa yang telah dikehendaki Allah SWT (Al-A’raf : 188).
2.
Menimbulkan
jiwa keberanian untuk membela kebenaran
3.
Menimbulkan
keyakinan kuat bahwa Allah sebagai pemberi rizki
4.
Melahirkan
jiwa yang tenteram dan hati yang tenang
5.
Kehidupan
yang baik dunia maupun akherat. ( Sayid Sabiq, 1978 :135)
6.
Iman
memberikan keberuntungan
Orang yang beriman adalah orang
beruntung dalam kehidupannya karena ia selalu mengikuti petunjuk dan bimbingan
Allah untuk mencapai tujuan hidup yang hakiki. Mereka itulah orang yang tetap
mendapat petunjuk dan orang –orang yang beruntung (Q.S Al-Baqarah : 5).
7.
Iman
melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
Konsekuen dalam melaksanakan
perintah dan meninggalkan larang Allah merupakan wujud dari pengaruh iman
seseorang. Karena Iman memang menuntut sikap yang konsisten terhadap apa yang
telah diikrarkan sebagai pernyataan pengakuan Allah sebagai Tuhan. Karena itu
pula seorang muslim melaksanakan amal perbuatan baik tanpa mengharap, kecuali
hanya keredhaan Allah sebagai perwujudan keikhlasan. Sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, tuhan semesta alam (Al-An’am :
162).
8.
Orang
yang beriman akan merasa selalu hidup bersama para nabi dan orang–orang yang
shaleh dalam segala zaman (An-Nisa : 69).
9.
Keimanan
seseorang akan membebaskan dirinya dari keraguan dalam menghadapi kehidupan.
orang beriman menampakkan jalan yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan
(Al-Fath : 4).
1. Iman menimbulkan perasaan aman dan tidak khawatir
terhadap akan datangnya kematian. Karena kematian adalah suatu kepastian.
Kematian yang kamu menghindarkan diri darinya, sesungguhnya akan menemui kamu
juga (Al-Jum’ah : 8)
Pengertian dan Fungsi Taqwa
Secara etimologi
taqwa berasal dari kata waqa, yaqi, wiqayah yang berarti
takut, menjaga, memelihara dan melindungi. Dan takutlah (peliharalah) dirimu
dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang kafir (Ali-Imran :131).
Menurut penelitian
Al-Muqaddis sebagaimana dikutip M. Daud Ali (2000: 361) bahwa didalam Al-Qur’an
terdapat 256 kata taqwa pada 251 ayat dalam berbagai hubungan dan variasi
makna.
Secara terminologi
taqwa menurut H.Agussalim adalah sikap mental seseorang yang selalu waspada
terhadap sesuatu dalam upaya memelihara dirinya dari noda dan dosa,selalu
melakukan perbuatan–perbuatan baik dan benar menghindari berbuat salah dan
menghindari melakukan kejahatan terhadap diri sendiri,orang lain dan
lingkungannya (Sidi Gazalba, 1976 : 46).
Dengan demikian
secara sederhana taqwa dapat diartikan adalah memelihara atau menjaga diri dari
siksa dan murka Allah dengan melaksanakan semua perintah-Nya (berta’at
kepada-Nya) dan meninggalkan semua larangan-Nya baik dalam kehidupan pribadi,
keluarga, masyarakat maupun dalam bernegara.
Karakteristik orang bertaqwa
Karakteristik orang yang bertaqwa ini dijelaskan dalam
al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 1-5 dan 177 :
1.
Beriman
kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab dan para nabi
Karakteristik ini melahirkan
indikator bahwa orang yang bertaqwa itu mampu memelihara fitrah iman.
2.
Memberikan
harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, orangh-orang
yang terputus bekal diperjalanan ,orang-orang yang meminta-minta, orang-orang
yang tidak mampu memenuhi kewajibannya dan orang-orang memerdekaan hamba
sahaya. Karakteristik ini melahirkan indikator bahwa orang yang bertaqwa itu
mencintai sesama manusia yang diwujudkan dengan kesanggupan mengorbankan harta
yang dicintainya.
3.
Mendirikan
shalat untuk memelihara hablum minallah dan membayar zakat untuk memelihara
hablum minannas. Karakteristik ini
melahirkan indikator kemampuan memelihara ibadah formal.
4.
Menepati
janji yang dapat diartikan dengan memelihara kehormatan diri.
5.
Sabar
disaat kepayahan, kesusahan dan pada waktu perang atau dalam pengertian lain
mempunyai semangat perjuangan..
Berdasarkan karakteristik ini maka dapat dikelompokkan
dalam dua kecenderungan sikap yaitu :
Pertama: Sikap
konsisten memelihara hubungan secara vertikal dengan Allah SWT yang diwujudkan
melalui iktiqad dan keyakinan yang lurus, ketulusan dalam menjalankan ibadah
dan kepatuhan terhadap ketentuan dan aturan Allah SWT
Kedua: Memelihara
hubungan secara horizontal yakni cinta dan kasih sayang kepada sesama umat
manusia yang diwujudkan dalam segala tindakan kebajikan (Dep.Agama RI,2001
:180-181).
Implikasi orang bertaqwa dalam kehidupan
Dalam memelihara hubungan dengan Allah SWT adalah :
1.
Beriman
kepada-Nya dengan setulus hati dan sepenuh jiwa
2.
Beribadah
kepada-Nya dengan jalan melaksanakan shalat lima waktu, membayar zakat,
berpuasa Ramadhan dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.
1. Selalu
berdo’a kepada-Nya untuk keselamatan dalam menjalankan tugas didunia dan
keselamatan diakhirat.
2. Selau
mohon ampun atas segala dosa akibat kesalahan terhadap larangan Allah dan
bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan kedua sebagai wujud kesadaran bahwa
kesalahan itu tidak perlu diulangi.
6.
Mensyukuri
nikma-Nya dengan cara menerima, mengurus dan memanfa’atkan semua pemberian
Allah dalam beribadah kepada-Nya.
7. Sabar
menghadapi musibah, tidak putus asa karena musibah merupakan cobaan iman
seseorang dan sabar dalam menjalankan kehidupan yang penuh tantangan.
Fungsi Taqwa dalam kehidupan
Fungsi Taqwa dalam kehidupan
Fungsi taqwa berarti manfa’at atau kegunaan taqwa bagi
seorang mukmin dalam kehidupannya. Taqwa bagi soerang muslim adalah :
. Taqwa berfungsi untuk memperoleh jalan keluar dari kesulitan.(At-Thalaq : 2).
. Taqwa berfungsi sebagai cara untuk memperoleh rizki dari jalan yang tidak diduga (At-Thalaq : 3).
. Taqwa berfungsi untuk memperoleh cara dalam menyelesaikan kesulitan dalam urusan kehidupan ( At-Thalaq : 4).
. Taqwa berfungsi untuk menghapus kesalahan-kesalahan manusia muslim dan melipatgandakan pahala baginya (At-Thalaq : 5).
. Taqwa berfungsi untuk memperoleh pahala yang dilipatgandakan Allah baginya ( At-Thalaq : 5)
. Taqwa sebagai predikat muslim untuk memperoleh kemuliaan disisi Allah SWT ( Al-Hujurat : 13).
. Taqwa berfungsi untuk memperoleh surga yang dijanjikan Allah yang didalamnya ada sungai-sungai yang airnya tidak berubah, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang segar bagi orang yang meminumnya dan sungai-sungai dari madu yang telah disaring (Muhammad : 15).
. Taqwa berfungsi untuk memperoleh jalan keluar dari kesulitan.(At-Thalaq : 2).
. Taqwa berfungsi sebagai cara untuk memperoleh rizki dari jalan yang tidak diduga (At-Thalaq : 3).
. Taqwa berfungsi untuk memperoleh cara dalam menyelesaikan kesulitan dalam urusan kehidupan ( At-Thalaq : 4).
. Taqwa berfungsi untuk menghapus kesalahan-kesalahan manusia muslim dan melipatgandakan pahala baginya (At-Thalaq : 5).
. Taqwa berfungsi untuk memperoleh pahala yang dilipatgandakan Allah baginya ( At-Thalaq : 5)
. Taqwa sebagai predikat muslim untuk memperoleh kemuliaan disisi Allah SWT ( Al-Hujurat : 13).
. Taqwa berfungsi untuk memperoleh surga yang dijanjikan Allah yang didalamnya ada sungai-sungai yang airnya tidak berubah, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang segar bagi orang yang meminumnya dan sungai-sungai dari madu yang telah disaring (Muhammad : 15).
No comments:
Post a Comment